Review Film Escape Room – Penuh Teka-Teki Ringan yang Sarat Detail

[vc_row][vc_column width=”1/6″][/vc_column][vc_column width=”2/3″][vc_row_inner][vc_column_inner width=”3/4″][vc_progress_bar values=”%5B%7B%22label%22%3A%22Alur%20Cerita%22%2C%22value%22%3A%2270%22%2C%22color%22%3A%22bar_green%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22Karakter%22%2C%22value%22%3A%2270%22%2C%22color%22%3A%22peacoc%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22Visual%20%26%20Audio%22%2C%22value%22%3A%2275%22%2C%22color%22%3A%22bar_red%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22Kostum%22%2C%22value%22%3A%2260%22%2C%22color%22%3A%22chino%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22UNIQUE%22%2C%22value%22%3A%2275%22%2C%22color%22%3A%22vista-blue%22%7D%5D” bgcolor=”custom” options=”striped,animated” css_animation=”rotateIn” bgstyle=”outline” units=”points” custombgcolor=”#81d742″][vc_empty_space][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/4″][vc_single_image image=”25957″ img_size=”large” alignment=”center” style=”vc_box_rounded” onclick=”zoom” css_animation=”bounceIn”][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_column_text]

 

Dari judulnya, setiap orang pasti akan langsung menebak bahwa film ini tentang bagaimana para karakter keluar dari sebuah ruangan. Yap, dan memang itu yang ingin dihadirkan Adam Robitel, sang director, lewat film Escape Room ini.

 

Sejak awal, saya sedikit curiga dengan pengelompokan film ini ke PG13. Secara logika, film ini diseting agar bisa dinikmati remaja 13 tahun yang umumnya belum mampu berfikir kompleks. Asumsi awalpun hadir akan alur film cerita ini yang akan dibuat lebih ringan untuk dicerna kebanyakan penonton.

 

Alur Cerita

 

Seperti biasa, film genre misteri seperti ini ceritanya dibuat tidak tersusun teratur. Dimulai dari overview singkat tentang latar belakang enam (6) pemeran utama yang mendapat undangan berbentuk unik. Undangan yang mengimingi mereka uang dalam jumlah besar. Di sini, nampak profiling pemain adalah mereka-mereka yang butuh sekali uang hadiah tersebut. Namun disini juga sudah langsung bisa ditebak bahwasannya pengirim undangan sudah memilih ke enam orang tersebut, dan bukan pemilihan secara acak.

 

Film Escape Room - 6

 

Sejak ke enam karakter utama berkumpul di waiting room sekaligus ruang uji coba pertama, penulis cerita perlahan mulai menguak masa lalu masing-masing karakter. Dimulai dari  Amanda (Deborah Ann Woll), yang ternyata punya masa lalu sebagai seorang tentara wanita dengan trauma luka bakar yang serius akibat terkena bom. Di ruang pertama ini penulis cerita juga berhasil mengecoh saya akan asumsi peserta yang yang paling pintar. Ternyata alur certita menunjukan, Zoey (Taylor Russell) lebih pintar dibanding tebakan saya, Danny (Nik Dodani), yang merupakan seorang Gamer.

 

Film Escape Room - 2nd Room

 

Di ruang kedua, giliran Ben (Logan Miller) yang lebih dulu mendapatkan petujuk. Sejak scene inilah saya mulai menebak bahwasanya, setiap ruang didesain sesuai masa lalu masing-masing karakter. Namun lagi-lagi Amanda yang menemukan petujuk utama untuk bisa keluar dari ruang kedua. Mulai ruang kedua inilah satu per satu karakter tersingkirkan. Tapi dengan berkurangnya jumlah pemain, rasa solidaritas antar pemain yang tersisa membuat saya sempat optimis tak ada lagi korban di ruang-ruang selanjutnya.

 

Baca juga: Review Film Elliot the Littlest Reindeer – Karena mimpi tak mengenal keterbatasan

 

Tapi ternayat tebakan saya salah. Sang pemilik Minos Escape Room Facility digambarkan selalu detail dalam mendesain properti di setiap ruang. Pada awalnya, saya dan mungkin semua penonton pasti menebak bahwa, Jason-lah yang akan menjadi last man standing pada alur cerita film Escape Room ini. Di sini sang penulis cerita cukup berhasil membelokan keadaan yang tidak terduga sama sekali.

 

Film Escape Room - Zoey

 

Terkait petunjuk-petunjuk yang harus ditemukan oleh para pemain, hampir semuanya buah pemikiran Zoey. Agak disayangkan, petunjuk-petunjuk tersebut terkesan mudah sekali ditemukan. Tapi dari sudut pandang lain, nampaknya hal tersebut sengaja dilakukan untuk mempersingkat durasi.

 

Casting

 

Film Escape Room - 3rd room

 

Deretan pemain yang tampil saya lihat mampu memerankan karakter, sesuai yang diinginkan plot cerita.  Terutama sekali di awal film dimana mereka harus menyembunyikan karakter asli mereka akibat trauma masing-masing. Mungkin menurut saya, hanya Ben yang karakternya paling mudah ditebak. Tipikal anak muda dengan pikiran pendek, yang mudah sekali tersulut emosinya.

 

Di ruang-ruang selanjutnya, saya perhatikan ada perubahan profil dari beberapa karakter, paling terlihat adalah Zoey dan Mike (Tyler Labine) yang ternyata pernah mengalami trauma terkubur di tambang tempat ia bekerja. Saya sendiri tertipu dengan perubahan profil Zoey dimana sebelumnya ia selalu tenang, namun berubah menjadi seorang yang putus asa. Namun ternyata, itu merupakan trik hasil kepintarannya serta keyakinan bahwasannya, ia tidak boleh kalah oleh pemilik fasilitas Escape Room ini.

 

Visual & Audio

 

Lagi-lagi, saya sangat menyukai detail yang dihadirkan dari properti masing masing ruang. Itu membuat saya mengabaikan bahwasanya tiap adegan diambil dalam studio, yang identik dengan modal pembuatan film yang minimalis.

 

Untuk audio memang terlalu profokatif, dan menurut saya cenderung hanya ‘melapisi’ kulit luar tiap tiap adegan-nya saja. Detail saat interaksi pemain dengan property, kurang mendapat dramatisasi dari audio pada film Escape Room ini.

 

Properti & Kostum

 

Film ini lebih menekankan pada penggunaan properti di jaman yang sekarang kita jalanin. Tidak terlihat ada properti futuristik hasil daya hayal sang produser. Properti yang ada pun bukan dari jenis mewah atau susah dibuat. Namun kembali saya tegaskan, sang produser nampaknya banyak menghabiskan waktu untuk membuat setiap properti benar-benar terhubung satu sama lain.

 

Kesimpulan

 

Di setiap kesuksesan tiap karakter keluar dari ruang uji coba, penulis cerita seperti memberi jeda bagi penonton untuk menormalkan adrenalin yang sengaja dibuat Roaler Coaster. Naik tinggi saat adegan mencari jalan keluar dan turun tentram saat melihat karakter berhasil menemukan petunjuk hingga berhasil keluar.

 

Beberapa scene menghadirkan situasi yang sepintas terlihat rumit untuk sebagian penonton awam. Namun bagi penonton yang terbiasa dengan film-film misteri, alur cerita Escape Room ini cenderung mudah ditebak. Namun yang saya sangat suka pada film ini adalah, penguatan detail hingga tak perlu membuat film ini bertele-tele.

 

Jika kamu berniat mencari hiburan dan tidak ingin terlalu terlibat dalam permainan sang sutradara, atau kamu penikmat film detektif tapi tidak terlalu suka ketegangan level dewa, saya merekomendasikan film Escape Room ini sebagai pelepas penat sepulang kerja.

[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/6″][/vc_column][/vc_row]