Review Film Instant Family – Visualisasi Apik Antara Komitmen dan Ego

[vc_row][vc_column width=”1/6″][/vc_column][vc_column width=”2/3″][vc_row_inner][vc_column_inner width=”3/4″][vc_progress_bar values=”%5B%7B%22label%22%3A%22Alur%20Cerita%22%2C%22value%22%3A%2280%22%2C%22color%22%3A%22bar_green%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22Karakter%22%2C%22value%22%3A%2275%22%2C%22color%22%3A%22peacoc%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22Visual%20%26%20Audio%22%2C%22value%22%3A%2270%22%2C%22color%22%3A%22bar_red%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22Kostum%22%2C%22value%22%3A%2265%22%2C%22color%22%3A%22chino%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22UNIQUE%22%2C%22value%22%3A%2280%22%2C%22color%22%3A%22vista-blue%22%7D%5D” bgcolor=”custom” options=”striped,animated” css_animation=”rotateIn” bgstyle=”outline” units=”points” custombgcolor=”#81d742″][vc_column_text][yasr_overall_rating][/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/4″][vc_single_image image=”25957″ img_size=”large” alignment=”center” style=”vc_box_rounded” onclick=”zoom” css_animation=”bounceIn”][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_column_text]

 

Jika melihat banyak sinopsis juga trailer film Instant Family, pasti banyak yang beranggapan bahwa film ini semata-mata mengangkat drama dalam sebuah rumah tangga terkait proses adopsi anak. Nyatanya, film Instant Family jauh lebih luas dari sekedar aktualisasi konflik antara orang tua dengan anak angkatnya.

 

Alur Cerita – Penuh dialog natural

 

review-Film-Instant-Family-4

 

Alkisah, Pete (Mark Wahlberg) dan Allie (Rose Byrne) merupakan pasangan suami istri yang belum dikarunia keturunan. Terinspirasi dari gurauan Pete, Allie diam-diam mencari info tentang proses mengadopsi anak. Namun tak seperti mereka kira, untuk bisa mengadopsi anak diperlukan banyak syarat hingga sang orang tua di rasa siap mental.

 

 

Kembali, karena kekonyolan Pete, mereka mendapat kesan mendalam pada Lizzy (Elizabeth Moner), seorang calon anak asuh berusia remaja. Akhirnya mereka berkomitmen untuk memilih Lizzy, dan melupakan mimpi mereka merawat seorang anak anak yang lucu. Tapi nasib berkata lain, Lizzy ternyata punya 2 orang adik yang kembali membuat Pete dan Ellie kembali bersemangat. Dimulai lah babak baru kehidupan Pete dan Ellie sejak mereka membawa pulang Lizzy dan adik-adiknya.

 

Baca juga: Review Film Escape Room – Penuh Teka-Teki Ringan yang Sarat Detail

 

review-Film-Instant-Family-9

 

Di awal proses adopsi, Pete dan Ellie berusaha mati-matiian menekan ego, untuk terus melaksanakan komitmen mereka untuk mengadopsi anak. Banyak sekali dialog inspiratif yang menurut saya, berhasil menggambarkan sisi kehidupan nyata disekitar kita. Hampir saja mereka putus asa jika saja tak mendapat banyak masukan dari orang-orang terdekat mereka.

 

 

Review-Film-Instant-Family-11

 

Dialog-dialog juga diselipkan candaan yang menurut saya ‘ger…’, menjadikan interaksi tiap pemain mengalir dengan sangat dinamis. Walau berangkat dari kisah yang pernah terjadi, pembentukan karakter terlihat sekali tak sembarangan. Seolah olah sang director lah yang mengalami hal tersebut.

 

review-Film-Instant-Family-10

 

Penonton juga dibawa pada suasana penuh kekeluargaan, yang jauh dari bayangan orang orang di Indonesia, tentang kehidupan di luar negeri. Pengetahuan tentang cara-cara yang berlaku untuk mengaopsi seorang anak, nampaknya bisa dijadikan panutan. Walaupun sebenarnya, banyak literatur yang lebih lengkap mengenai hal ini. Tapi Film Instant Family berhasil memvisualkan dengan baik.

 

Visual & Audio

 

review-Film-Instant-Family-7

 

Pengambilan gambar pada film Instant family ini sepintas terlihat sederhana. Namun jika diperhatikan, penuh teknik lighting yang ditata apik. Properti pendukung dalam film cukup dipikirkan dengan detail. Terutama scene-scene di luar ruangan seperti saat Pete dan Ellie ke acara pendekatan dengan calon anak angkat, dan juga saat berkemah.

 

review-Film-Instant-Family-8

 

Tidak banyak yang bisa dikomentari dari sisi Audio kecuali momen dimana Pete dan Ellie bertengkar disekitar Lizzy. Jika diberikan scene dari view Lizzy saat mereka bertengkar, mungkin bisa menguatkan alasan Lizzy, mengapa dari jarak yang cukup jauh, mereka bisa mendengar dengan jelas pertengkaran Pete dan Ellie.

 

Kostum

 

review-Film-Instant-Family-2

 

Kembali, di sisi kostum, sang produser ingin menggiring persepsi penonton tentang busana sehari-hari orang di luar sana, tidak jauh berbeda dengan di sini. Sederhana, walaupun sepertinya ada garis cukup jelas yang ingin diangkat oleh sang produser antara orang dewasa dan Lizzy. Dimana Lizzy dan juga teman-temannya telah bertransformasi menjadi remaja moderen yang memandang cara berbusana orang tua angkat mereka sudah tidak cocok lagi.

 

Kesimpulan

 

Review-Film-Instant-Family-3

 

Secara garis besar, film Instant Family ini membawa pesan moral yang sangat dalam walau diselingin humor di sana sini. Bukan hanya untuk mereka-mereka yang punya nasib sama seperti Pete dan Ellie, tapi juga untuk mereka yang sudah memiliki putra putri. Terutama sekali jika putra atau putri kita sudah beranjak dewasa dan sudah memiliki dunia dan alam fikirnya sendiri.

 

Review-Film-Instant-Family-6

 

Jika kamu tertarik menjadi orang tua asuh, atau ingin tahu bagaimana caranya memupuk sebuah komitmen dengan keluarga kecil kamu, film ini sangat saya rekomendasikan.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/6″][/vc_column][/vc_row]