Review Zenbook UX533FD – Performance Ultrabook Ringkas dari Asus

Review Zenbook UX533FD – Performance Ultrabook Ringkas dari Asus

Pelan tapi pasti, membanjirnya produk-produk Ultrabook kelas menengah atas dengan sistem operasi Windows, sedikit demi sedikit mulai menggerogoti pasar yang selama ini dikuasai oleh keluarga Macbook. Pertanyaannya, mampukah Zenbook baru ini menarik hati para Mac Enthusiast yang sedang patah hati, karena merasa Macbook terbaru tidak lagi sesuai harapan?

Perlu diingat, kategori ini sedang gencar digoda oleh banyak performance ultrabook seperti Dell XPS 15, HP Elitebook 1050 G1, bahkan Razer Blade. Jika kamu mencari alternatif Spectre 13, atau Lenova Yoga 920. Kamu bisa lihat versi 13 UX333 atau 14 UX433, dari keluarga New Zenbook ini.

Kita mulai dari data tahun lalu tentang popularitas Apple yang turun ke posisi 7 di bawah Asus (peringkat 5) dan Microsoft (peringkat 6), Saya pribadi penasaran. Apakah memang benar-benar kesalahan marketing Apple berdampak separah itu? atau ada faktor dari sisi produk yang membuat merek Asus melejit tahun lalu. Mari mulai cari tahu.

Tentu data di atas juga berdasarkan laporan penjualan tiap tiap merek. Dalam artian, Asus berhasil menjual lebih banyak notebook dibanding Apple tahun lalu. Walaupun, itu merupakan sumbangsih dari beberapa line-up produk. Temasuk line-up ROG, yang di Indonesia sendiri laris manis.

Asus Zenbook UX533FD

  • Design & Handling

Review-Zenbook-UX533FD---Workstation-palm-rest

Sudah banyak yang membahas sisi desain produk ini, dan menurut saya tak ada yang perlu di perjelas lagi. Kita sambil lalu saja ya lewat title-title yang bisa kamu lihat sepanjang artikel ini.

Asus punya dua (2) line-up untuk Zenbook, Klasik dan Pro. Dan Zenbook UX533FD yang saya ulas kali ini, masuk kategori Klasik. Bersama UX333 dan UX433, line-up Zenbook klasik terbaru menawarkan kombinasi layar Bezel-less tingkat ekstrim dan sertifikasi Military Grade. Paduan yang sedang trend saat ini, dikategori laptop premium. Dan ini salah satu sebab yang membuat unit review Zenbook UX533FD ini dibanderol tinggi.

[dt_highlight color=”” text_color=”” bg_color=””]The world’s smallest 15-inch laptop[/dt_highlight]

Efek paling signifikan tentu saja ada pada dimensi sasis keseluruhan yang kali ini hadir jauh lebih ringkas, hanya 354 x 220 mm. Bahkan mencapai 12% lebih ringkas dari line-up Zenbook  mereka di tahun 2017. Ketebalan 17,9 mm memang bukan yang paling wah. Bagaimanapun juga, prosesor dan Geforce GTX 1050 di dalam laptop ini, butuh bernafas. Saya pribadi memaklumi.

Review Zenbook UX533FD - Top workstation

Walau memberi sentuhan emas pada pinggiran atas workstation dan beberapa area lain, bukan berarti produk ini ditujukan untuk pengguna milenial saja. Karena menurut Asus, sentuhan emas memanjang di bagian atas workstation ini terinspirasi dari garis horizon di senja hari. Yang memiliki makna ‘tanpa batas’.

Review Zenbook UX533FD - Front workstation

Membuat Zenbook UX533FD ini punya nilai jual sangat unik dari sisi handling, yang secara masif jadi tema kampanye produk ini di pasaran. Tapi menurut saya, untuk harga 26 juta, konfigurasi hardware dalam produk ini, akan dengan mudah menjegal nama-nama ultrabook yang saya sebutkan sebelumnya.

  • Lift-UP Workstation

Review Asus ZenBook 15 UX533FD - FI

Hal menarik lain yang saya suka dari seri Zenbook terbaru termasuk UX533FD ini adalah, konsep lift-UP yang memanfaatkan cover LCD untuk menambah ruang sirkulasi udara di bagian bawah laptop. Pantas saja, semua seri Zenbook klasik terbaru Asus tak lagi menawarkan rubber foot di bagian bottom-case. Adapun rubber foot untuk menjaga unit tidak bergeser saat digunakan, dipindahkan ke cover lcd yang menjadi pengungkit.

Review-Zenbook-UX533FD---Workstation-SM

Mungkin karena akhir-akhir ini menggunakan keyboard dengan ukuran keycap besar, berasa banget agak canggung saat pertama bekerja di atas keyboard UX533FD. Padahal, keycap berukuran 15×15 mm pada UX533 ini standar internasional dan tidak juga bisa dibilang kecil. Bahkan mungkin untuk mayoritas orang Asia, ukuran 15 x 15 mm ini paling pas.

Review-Zenbook-UX533FD---Workstation-key-travel-SM

Experience tombolnya sangat responsif, dengan feedback force kategori menengah, tidak ringan dan tidak juga keras. Noise yang timbul saat keycap ditekan juga masih bisa ditolerir. Ketinggian keycap pada UX533F ini nampaknya sudah maksimal untuk menghindari tidak bersentuhan dengan panel LCD. Sedikit flex masih terasa di papan keyboard, tapi tidak sampai mengganggu pengalaman mengetik.

Review-Zenbook-UX533FD---Workstation-touchpad-SM

Sayangnya, layout keyboard UX533VD masih konvensional. Belum serupa Macbook Pro yang sudah lama menghilangkan Numpad. Tidak juga seperti UX333 dan UX433 yang membekal NumberPad, Fitur multi function touchpad besutan Asus, yang memungkinkan touchpad berubah fungsi menjadi Numpad. Nah untuk touchpadnya sendiri, so far saya tak menemukan kejanggalan operasional. Smooth seperti seharusnya.

  • I/O Port  & Konektifitas

Asus nampaknya yakin konfigurasi I/O seperti pada UX533FD ini adalah yang paling pas untuk kebutuhan saat ini. Jujur saya sepaham. Port USB type-A yang tersedia di sisi kiri dan kanan sasis, lebih bermanfaat dibanding USB type-C Gen 3 saat ini. Bukan meremehkan kemampuan calon pengguna untuk membeli adapter Type-C ke bentuk I/O lain. Tapi habit profesional yang cenderung lebih menyukai sesuatu yang siap pakai, menjadikan Type-C saat ini belum bisa menjadi big plus. Khususnya di Indonesia ya..

Review-Zenbook-UX533FD-IO-right-2

Sayangnya, USB Type-C masih versi 2 dengan maksimal bandwith 10 gbps. Jadi seri ini belum menawarkan ThunderBolt 3 seperti beberapa kompetitor di level harga ini. Overall, untuk urusan I/O port dan konektifitas, UX533FD cukup baik terutama untuk yang tidak membutuhkan ThunderBolt 3. Di sisi koneksi nirkabel, modul WiFi a/c yang digunakan sudah mengadopsi gigabyte class. Di mana secara teori, sudah layak bersanding dengan koneksi kabel. dan Bluetooth 5 bisa kamu temukan pada produk ini. Tapi dari jenis kontrolernya, menurut saya bukan sesuatu yang bisa di-highlight.

Display Panel

Zenbook UX533FD dibekali panel IPS 1080p yang secara default, tampilan warnanya sudah cerah meriah. Dengan spesififikasi 100% sRGB dan viewing angle 178°, lengkap sudah syarat wajib untuk sebuah laptop multimedia premium.

Untuk memberi proteksi tambahan, Zenbook UX533FD juga membekal lapisan pelindung yang berefek tampilannya menjadi glossy. Selama bekerja di dalam ruangan, saya tidak menemukan kendala berarti dengan lapisan pelindung ini. Tapi saat di bawa ke luar, atau bersisian dengan jendela yang memasok cahaya berlimpah, pantulan objek di layar cukup menggangu selama menggunakan laptop ini.

Performa

Asus Zenbook UX533FD Synthetic Benchmark Compilation SM

Performa merupakan salah satu hal yang membuat produk Ultrabook lebih seksi dibanding Macbook. Sekaligus menjawab rasa penasaran saya pada Geforce GTX 1050 Max-Q, terutama posisi chip grafis ini jika dibanding beberapa chip grafis 2 hingga 3 tahun lalu.

Asus Zenbook UX533FD Synthetic CPU Comparison - SM

Pertama kita tengok performa prosesor Intel core i7-8565U yang jika dibandingkan dengan chip Kaby-Lake R seperti i7-8550U, menawarkan clock-speed yang lebih tinggi disemua konfigurasi. Sebagai informasi, Intel mengijinkan pabrikan untuk menaikan TDP hingga 25 watt untuk i7-8565U, selama sistem pendingin yang disandingkan mumpuni. Dan Asus melakukan hal tersebut.

Asus Zenbook UX533FD X264 Benchmark - SM

Hasilnya, jika dibanding i7-8550U, overall i7-8565U saat berjalan di 25 watt pada UX533VD ini, unggul sangat jauh. Jika dibandingkan dengan i7-8565U versi 15 watt, bosting performa terutama di multicore performance, jelas terlihat perbedaannya.

Review-Zenbook-UX533FD - AS SSD

Yang membuat saya cukup takjub adalah saat menggunakan laptop ini sebagai mesin editing video. Pertama, konfigurasi CPU dan GPU pada UX533FD ini selalu bisa bekerja sama dengan baik, pada software yang mendukung pararel computing seperti Premiere Pro CC atau Filmora 9 terbaru. Di tambah kemampuan SSD, terutama di sisi Write yang nilai keseluruhan melampaui nilai keseluruhan performa Read-nya.

Asus Zenbook UX533F Unigine_Valley_Benchmark - SM

Laptop ini didesain jelas bukan untuk gaming. Tapi dengan menjual GPU Nvidia Geforce GTX 1050 Max-Q, tidak bisa tidak jikalau banyak profesional yang masih sering bermain game untuk mengisi waktu luang, bakal tergoda. Karenanya, tidak afdol jika tidak kita lakukan tes dengan menjalankan game. Overall, performa Geforce GTX 1050 Max-Q ini setara dengan Geforce GTX 780M, Geforce GTX 870M atau Geforce GTX 965M. Luar biasa bukan?

Asus Zenbook UX533F - 30 min in game temperature

Kamu bisa lihat FPS per game pada video review dari pihak lain. Di sini, Skyegrid mencoba melihat lebih dalam tentang bagaimana kemampuan sistem pendingin laptop ini saat di ajak bermain game. Hasilnya, menjalankan PUBG PC dengan seting auto dari Geforce Experience, beberapa kali terdeteksi Thermal Throttling pada HW Monitor. Uniknya, frame rate selama bermain tidak drop parah hingga menyebabkan FPS drop. Saya tetap bisa mengontrol karakter dengan mulus tanpa terkendala LAG.

  • Cooling System

review Asus Zenbook UX533F - CB15 10x Loop Table

Kamu bisa lihat, Asus menambahkan exhaust tambahan di sisi kiri sasis. Hal ini cukup membantu sistem pendingin mengeluarkan udara panas yang tidak bisa keluar maksimal lewat lubang exhaust di bagian bawah LCD. Sejauh looping cinebench sebanyak 10x, clock speed CPU mampu bertahan di angka 2,9 GHz hingga tes terakhir. Sebagai informasi, loop pertama CPU masih berjalan di 3,6 GHz. Loop kedua, turun ke 3,0 GHz. Loop ketiga hingga ke-10, CPU berjalan di 2,9 GHz.

Review-Zenbook-UX533FD-Back-Sasis-3

Secara keseluruhan, sistem pendingin memang belum mampu mempertahankan CPU untuk bekerja maksimal dalam jangka waktu lama. Saya perhatikan, sistem pendingin pada UX533 ini juga cukup kesulitan menetralisir temperatur kembali ke angka di bawah 68°C. Tapi saya pastikan, sangat bisa diandalkan menjaga kestabilan CPU hingga pengguna tidak merasakan penurunan performa yang berarti.

Battery & Power Management

Review-Zenbook-UX533FD-Bottom-case-SM

Hal ini tentu perlu jadi perhatian khusus untuk sebuah Ultrabook. Tidak tanggung-tanggung, Asus mengklaim Zenbook UX533FD versi i5 mampu bertahan hingga 17 jam pada pengujian MobileMark® 2014 Office Productivity scenario, dengan konfigurasi test, Wi-Fi enabled, display brightness 70%.

review Asus Zenbook UX533F - PCMark 8 home battery conv

Baterai berkapasitas 73 Wh masuk kategori besar untuk sebuah sasis laptop 15 inci yang terhitung kompak. Bisa dibayangkan, ukuran motherboard laptop ini pasti lebih ringkas lagi. Wajar lewat pengujian PCMark 8 Home Battery test, laptop ini sanggup menorehkan angka 8 jam 4 menit. Secara keseluruhan, power management laptop ini patut di acungi jempol.

review Asus Zenbook UX533F - Power adaptor
property of notebookcheck

Di platform laptop gaming, umumnya konfigurasi CPU Quad Core HQ dan GTX 1050, dipadankan dengan power adaptor minimal 120 Watt. Stres test Skyegrid memperlihatkan, beberapa kali terjadi power limit exceded yang menandakan laptop ini butuh kapasitas power adaptor yang lebih besar. Penggunaan real life pastinya jauh berbeda dengan benchmark. Karena akan jarang sekali CPU, GPU serta komponen lain bekerja dalam keadaan maksimal.  Itu mengapa Asus merasa cukup menyertakan Adaptor 90 Watt, untuk Zenbook UX533FD.

Kesimpulan

Review-Zenbook-UX533FD---LCD-cover

Asus, lewat Zenbook UX533FD nampaknya ingin memberi solusi sebuah laptop dengan performace-per-watt yang lebih tinggi dibanding line-up XPS 15. Zenbook UX533FD menawarkan spesifikasi dengan kasta yang sama dengan XPS 15, namun dari versi ULV dan Max-Q. Karena itulah, UX533FD lebih cocok untuk yang mencari produk mobile, ringkas dan tahan banting serta tidak membutuhkan opsi layar 4K plus touchscreen. Di sini positioning Zenbook UX533FD saya rasa sangat tepat.

Review-Zenbook-UX533FD---Speaker-Grill-2

Di sisi lain, UX533FD sangat mungkin menebar ancaman pada line-up Macbook Pro, terutama kompatibilitasnya dengan pararel computing yang saya rasakan, flawless sekali. Membuat Zenbook UX533FD ini tak sekedar ringkas, tapi terasa powerfull diberbagai aplikasi profesional.

Jika anda mencari laptop dengan desain premium, mungkin Spectre ataupun Yoga 920 lebih menggoda. Asus sendiri saya perhatikan, selalu memposisikan diri untuk memenuhi produk-produk dengan nilai price-to-perfromace tinggi. Kecuali Asus merilis laptop ini dalam versi Carbon Edition, atau Super Light Weight Magnesium.

rifanfernando

leave a comment

Create Account



Log In Your Account