Review Asus Vivobook Pro F560UD – Laptop GTX 1050 ‘Hemat’?

Review Asus Vivobook Pro F560UD – Laptop GTX 1050 ‘Hemat’?

Untuk yang lebih suka tampil Kasual dan Kalem

Hemat di sini bukan ditujukan untuk harganya, melainkan untuk efisiensi penggunaan daya baterai karena laptop 15,6 inchi ini, walaupun sudah membekal Geforce GTX 1050, yang bisa dikatakan kasta GPU Gaming, tapi menawarkan CPU dari kelas ULV 15 Watt, Intel Core i5-8250U.

Pertanyaannya, mampukah i5-8250U mengimbangi GTX 1050?

Dan seperti apa skema sistem pendingin yang di terapkan Asus untuk menjaga performa i5-8250U tetap prima saat bekerja sama dengan Geforce GTX 1050. Khususnya saat menjalankan komputasi berat?

  • DESIGN & HANDLING

Untuk level Vivobook, termasuk unit review Asus Vivobook pro F560UD ini, pengguna hanya akan mendapat material plastik. Yang untungnya, dipermanis dengan desain tekstur abstrak dan border line berwarna hijau toska (atau biru muda sih?), khas seri Vivobook Pro akhir-akhir ini. Menurut saya, paduan yang masih bisa dikatakan OK jika menyasar kaum muda yang aktif. Tapi saya yakin, segmen milenial (termasuk saya), agak terganggu dengan warna jreng seperti ini.

Review-Asus-Vivobook-Pro-F560UD - touchpad

Dan saya juga yakin, Asus menyadari hal ini. Overall, desain Vivobook Pro F560UD cukup berhasil memberi kesan kasual dan menekan kesan gaming. Sayangnya, lapisan terluar yang rata-rata doff, menimbulkan konsekwensi laptop ini akan sering dihiasi banyak jejak sidik jari.

Berat dan tebal Vivobook Pro F560UD ini masih kategori rata-rata sebuah laptop 15,6 inchi. Namun panjang dan lebar yang berkurang karena bingkai LCD yang sedikit mengkerut, membuat ukuran atau dimensi produk ini menurut saya, yaaa.. sedikit di bawah standar laptop 15,6 inchi. Tapi sedikit sekali ;).

  • I/O Port

Tak ada jenis port yang spesial  pada unit review Asus Vivobook Pro F560U ini. Port utama seperti HDMI, USB 3.0, Audio dan MicroSD Card Reader, di tempatkan di sisi kiri pengguna. Sedangkan port di sisi kanan, lebih kepada ekstensi saja. Terkait alasan Asus lebih memilih menggunakan MicroSD card Reader, saya pribadi cukup maklum.

  • Display Panel

Asus Vivobook Pro F560UD ini masih menggunakan panel berteknologi TN, namun dari kelas yang lebih advance. Sebab, mampu memberi pengguna sudut pandang lebih luas walaupun hanya dari sudut horizontal. Tak lupa, Asus menambahkan lapisan matte untuk menahan pantulan cahaya maupun objek yang berada di depan layar.

Kualitas warna yang ditampilkan sebenarnya cukup apik. Hanya saja, akibat memutuskan untuk menggunakan brightness yang tinggi, dalam pandangan saya jadi terlihat wash-out. Seperti ada lapisan kabut putih tipis yang membuat warna-warna cerah terlihat pucat.

Yang membuat saya cukup kaget, speakernya mampu melepaskan suara yang tak hanya keras, tapi juga detail. Usut punya usut, speaker yang digunakan punya dimensi super besar. Ditambah lagi, ruang resonansinya yang juga besar, bahkan yang paling besar yang pernah saya temukan di sebuah laptop. Alhasil, membuat frekuensi rendah (bass) terdengar cukup nendang.

  • Workstation

Keyboard hadir dengan ukuran keycap yang termasuk kecil jika membandingkannya dengan banyak laptop 15 inchi lain, dan tanpa backlight. Key-Travel-nya juga dibawah rata-rata sebuah laptop yang diberkahi ketebalan di atas 20 mm. Overall, design keyboard kurang cocok untuk saya, dan sedikit memperlambat kecepatan mengetik saya.

  • Performa
Review-Asus-Vivobook-Pro-F560UD - Upgrade-option
Tambah sekeping RAM DDR4 8 GB untuk Memory dan Replace HDD bawaan dengan SSD 2,5” SATA.

Pertama buka box, sumpah, berkomputasi dengan unit review Asus Vivobook Pro F560UD ini bener-bener menguji kesabaran. Sama sekali tidak menggambarkan level perangkat keras yang digunakan. Tapi saya rasakan, ada sedikit peningkatan setelah update windows ke patch terbaru. Jadi untuk mendapat performa hardware yang sebenarnya, saya lakukan upgrade komponen RAM dan storage utama.

Synthetic Benchmark Asus Vivobook Pro F560UD

Setelah selesai upgrade, baru terasa performa yang sesungguhnya. Booting windows dan buka tutup aplikasi jauh lebih cepat, dan benchmark pun dimulai.

CB15 CPU Multi - 10x looping table

Kita mulai dari uji coba ketahanan kinerja CPU lewat 10 kali looping Cinebench 15 Multi CPU. Hasilnya, di akhir looping ke-10, skor turun 8,5% dari 690 poin ke 631 poin. Ini menunjukan, performa sistem pendingin pada unit review Asus Vivobook Pro F560UD ini cukup mumpuni menjaga kestabilan temperatur prosesor.

Saat di ajak mencari chicken dinner di PUBG PC, Visual terasa agak choppy saat bermain 15 menit ke atas. Terlihat, i5-8250U berusaha keras mensinkronkan performanya dengan GTX 1050. Untuk visualisasinya, kamu juga bisa lihat video review nya di akhir artikel ini.

  • Sistem Pendingin

Review-Asus-Vivobook-Pro-F560UD - Cooling-fan-1

Sistem pendingin pada Vivobook F560UD overall cukup mumpuni menjaga temperatur i5-8250U Quad Core  dan GTX 1050 4 GB. Diberbagai pengujian, i5-8250U terlihat tetap mampu menjaga clockspeed pada kecepatan maksimal.

Saat bermain game, suhu GPU cukup mampu dijaga stabil di bawah 90°C. Walau sesekali menyentuh angka 93°C, namun langsung bisa kembali dipaksa turun oleh sistem pendinginnya, tanpa ada penyesuaian GPU clock.

Review-Asus-Vivobook-Pro-F560UD - Heatsink

Untuk suhu permukaan selama digunakan untuk gaming, overall aman jaya. Hanya bagian kiri atas workstation yang naik signifikan sebab posisi salah satu heatsink berada tepat di bawahnya. Namun tidak sampai mengganggu jari yang sedang berada di atas tombol WASD.

Baca juga: Review Surface Book GO 8GB

  • Unique & Kesimpulan

Review-Asus-Vivobook-Pro-F560UD - CPU-GPU-sticker

Jadi, apakah kombinasi Quad core ULV dan Geforce GTX 1050 patut dipertimbangkan?

Saya bisa katakan, masih acceptable untuk kebutuhan komputasi menengah ke atas apapun diluar gaming. Terkait performa gaming yang kurang baik, terutama game jenis CPU intensif, diperlukan sedikit effort dalam konfigurasi preset grafis masing-masing game, untuk mengurangi beban di sisi CPU. Karena perlu diingat, processor jenis ULV memang tidak diperuntukan sebagai mesin gaming, sekalipun masih cukup headroom pada sistem pendingin yang sudah saya buktikan di sesi benchmark dan gaming.

Dengan kombinasi CPU low watt, efek paling positif yang akan kamu dapatkan pastinya, lifespan baterai yang lebih panjang. Sekalipun bentang layar 15,6 inch, menyedot lebih banyak daya baterai.

Andai saja seri ini menggunakan baterai lythium-polymer, yang bisa dibentuk memanfaatkan ruang kosong yang saya lihat masih memungkinkan, saya yakin bisa menambah kapasitas baterai dan meningkatkan nilai jual produk ini disisi mobilitas.

Melihat dari hasil review di atas, saya bisa simpulkan bahwa Laptop ini, cocok untuk pengguna yang mencari desktop replacement untuk kebutuhan multimedia dan gaming medium, dengan budget dan mobilitas menengah.

  • Plus

+ Teksur menambah kesan futuristik pada desain.

+ Upgrade option cukup bagus.

  • Minus

– Kapasitas baterai tergolong kecil.

– TN Panel LCD

Video Review Asus Vivobook Pro F560UD

rifanfernando

leave a comment

Create Account



Log In Your Account