Review ASUS ProArt Station D940MX – Mini-PC Paling Potensial

[vc_row][vc_column width=”1/6″][/vc_column][vc_column width=”2/3″][vc_row_inner][vc_column_inner width=”3/4″][vc_progress_bar values=”%5B%7B%22label%22%3A%22DESIGN%22%2C%22value%22%3A%2275%22%2C%22color%22%3A%22bar_green%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22HANDLING%22%2C%22value%22%3A%2285%22%2C%22color%22%3A%22peacoc%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22PERFORMANCE%22%2C%22value%22%3A%2275%22%2C%22color%22%3A%22bar_red%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22PRICE%22%2C%22value%22%3A%2275%22%2C%22color%22%3A%22chino%22%7D%2C%7B%22label%22%3A%22UNIQUE%22%2C%22value%22%3A%2280%22%2C%22color%22%3A%22vista-blue%22%7D%5D” bgcolor=”custom” options=”striped,animated” css_animation=”rotateIn” bgstyle=”outline” units=”points” custombgcolor=”#81d742″][vc_empty_space height=”16px”][vc_column_text][yasr_overall_rating][/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/4″][vc_single_image image=”25961″ img_size=”medium” alignment=”center” onclick=”zoom” css_animation=”bounceIn”][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_empty_space][vc_column_text]Jika melihat spesifikasi, mungkin sekali unit review ASUS ProArt Station D940MX yang Skyegrid terima, adalah SKU paling cupu dari semua SKU yang ada. Tapi saya lebih tertarik untuk mengupas konsep disain-nya. Terutama penataan letak komponen dalam D940MX ini. Ada yang se’ide’?

 

Untuk rata-rata mini-PC, problem yang paling sering naik kepermukaan adalah keterbatasan tempat untuk menempatkan power suply berkapasitas besar. Hingga akhirnya, keterbatasan daya power suply memaksa pabrikan,- atau pengguna PC dengan config rakitan mini-PC mereka, tidak punya banyak ruang untuk menggunakan komponen high-end.

 

Beberapa pabrikan, coba memberikan solusi menggunakan raiser untuk beberapa part berukuran besar,- yang memungkinkan part-part tersebut berubah posisi,- dari vertikal menjadi horizontal. Termasuk ASUS ProArt Station D940MX yang kali ini kita review.

 

  • Spesifikasi, Opsi upgrade & harga

 

[ultimate_info_table design_style=”design04″ color_scheme=”custom” color_bg_main=”#12467f” color_txt_main=”#8fc748″ package_heading=”ASUS ProArt Station” package_sub_heading=”D940MX” heading_font_color=”#ffffff” subheading_font_color=”#ffffff” css_info_tables=”.vc_custom_1599470946368{padding-top: 5px !important;padding-right: 25px !important;padding-bottom: 5px !important;padding-left: 20px !important;}” heading_font_style=”font-weight:bold;” subheading_font_style=”font-weight:bold;”]

CPU Up to Intel® Core™ i9-9900K processor

3.6GHz 8-core, 16 threads with Turbo Boost (up to 5GHz) – 16MB Smart cache

Chpset Intel Z390
Operating system up to Windows 10 Pro
Graphics Nvida Quadro RTX4000 or

Nvidia Geforce RTX2080Ti

Main memory up to 64GB DDR4 pc 2666MHz (4 slot)
Storage up to 1TB PCIe SSD + 1TB SATA 2.5″
Connectivity Dual-band 2×2 Wi-Fi 6 (802.11ax)

Bluetooth® 5.0

Sasis Category mini-PC 8 L
I/O ports Front: 2x USB-C Gen 3 (ThunderBolt 3), 2x USB 3.1 Type-A Gen 2 (up to 10Gbps), 1x Combo audio

Rear: 1x Audio out, 1x Audio in, 1x Mic in, 1x HDMI, 4x USB 3.1 Type-A Gen 1, 1x RJ45, 2x DC-IN

Intel Teton Glacier (TG) Support
AC adapter Output :20 V DC, 14A, 280 W x2 ; Input :100 -240 V AC, 50/60 Hz universal
Dimensions 30 (T) x 28,3 (P) x 9,5 (L) cm
Weight 6 kg
Color Black
Harga Mulai dari 26,999,000

[/ultimate_info_table]

 

Seperti yang saya singgung di awal, spesifikasi unit review ASUS ProArt Station D940MX yang Skyegrid terima merupakan SKU yang paling rendah. Tapi opsi upgrade yang ditawarkan cukup membuat saya terkesan. Terutama opsi CPU hingga Intel Core i9-9900K, yang masih menjadi CPU flagship Intel untuk platform Desktop saat ini.

 

Review ASUS ProArt Station - D940MX - Front IO

 

 

Dengan opsi GPU hingga Nvidia Quadro RTX 4000, ASUS ProArt Station D940MX menargetkan pengguna yang membutuhkan sebuah PC dengan kemampuan sekelas workstation. Tentu, dengan konfigurasi berbeda yakni opsi GPU gaming hingga Nvidia RTX 2080Ti, D940MX ini juga menargetkan para gamer enthusiast.

 

Selain dua (2) komponen utama tadi, D940MX ini menawarkan opsi dual storage dengan sebuah slot m2 PCIe gen 3 x4, dan sebuah slot SATA 2.5-inch. Agak disayangkan memang D9 ini tidak diseting untuk menjalankan konfigurasi RAID. Tapi performa sekeping PCIe SSD 2TB, saya yakin sudah lebih dari cukup membuatnya berjalan sangat responsif.

 

Menurut pihak ASUS, produk ini masuk ke segmen commercial yang menjadikannya punya opsi custom yang sangat luas. Tak hanya custom dari sisi spesifikasi, tapi juga dari sisi fitur dan services. Seperti contohnya layanan servis di tempat atau On-Site Service (OSS), juga Accidental Damage Protection,- sebuah tambahan perlindungan atas kerusakan yang terjadi karena ketidak sengajaan pengguna.

 

Review ASUS ProArt Station D940MX - Upgrade option

 

Versi basic seperti unit review ASUS ProArt D940MX yang kita terima, dibanderol mulai dari 27 juta rupiah. Sedikit overprice jika hanya melihat spesifikasi yang melekat. Tapi cukup bisa dimaklumi setelah melihat opsi upgrade serta fitur-fitur bawaannya.

 

Namun hal pertama yang patut disayangkan adalah, D9 tidak menawarkan Hot swap slot seperti G21. Padahal, fitur ini akan sangat membantu meningkatkan nilai opsi upgrade unit review ASUS ProArt Station D940MX. Sisi baiknya, dimensi D9 jauh lebih ringkas dan ringan dibanding ROG Hurrancan.

 

– Paket Penjualan

 

 

Setup Workstation untuk profesional

 

Saya sendiri belum mendapat kepastian tentang paket penjualan yang bisa dipilih oleh calon pengguna. Dikarenakan D9 ini masuk produk Commercial, tebakan saya pengguna bisa memilih tak hanya spesifikasi, tapi juga bundling LCD monitor.

 

Yang jelas, paket penjualan D9 sudah termasuk keyboard dan mouse wireless, 2 buah power adaptor 280 watt, kartu garansi, dan juga quick manual guide.

 

  • Disain & Kemudahan pakai

 

Review ASUS ProArt Station - D940MX - 06

 

Jika kamu pernah melihat ASUS ROG G21 series, sangat mungkin ProArt Station ini dikembangkan dari seri tersebut. Tentu dengan beberapa penyempurnaan terutama dari konsep disain yang lebih profesional-look.

 

Proart Station D940MX ini di-disain Asimetris antara sisi kanan dan sisi kiri,- seperti rubrik yang sedang dalam posisi tergeser. Jika dilihat dari depan, sisi sebelah kiri dijadikan sebagai front panel dimana unit ini menempatkan front IO port.

 

Review ASUS ProArt Station D940MX - Disain01

 

ASUS memanfaatkan konsep Asimetris ini bukan tanpa alasan. Jika ROG G21 terdahulu memanfaatkan sebagian area side panel yang bisa dilipat untuk tambahan lubang masuk udara segar, D9 ini memanfaatkan area bawah sisi kiri yang dibuat naik ke atas.

 

Masih di area bawah sisi kiri, ASUS menambahkan full throttle indicator yang akan berpijar biru saat CPU dalam keadaan 90% load. Ini bisa dijadikan acuan untuk pengguna yang ingin lebih mudah mengtahui status rendering yang tengah dilakukan.

 

IO Port

 

IO port belakang pada D940MX

 

D9 menawarkan deretan IO port yang unik dan sedikit lebih canggih dibanding G21. Dengan 2 buah port ThunderBolt 3 di depan, apapun yang pengguna butuhkan untuk meng-ekspan konektifitas PC ini, bisa terpenuhi.

 

Untuk IO port dibagian belakang juga sudah mendekati konfig IO sebuah PC desktop pada umumnya. Terutama jika melihat deretan 4 port USB dan 3 jack audio yang mendukung 7-in-1 audio output, dan tentunya output display dari decicated GPU-nya sendiri.

 

– Sistem pendingin

 

 

Review ASUS ProArt Station D940MX - Cooling system

 

Khusus sistem pendingin, ASUS punya klaim khusus yang menyatakan noise yang keluar dari sistem pendingin D940MX maksimal 37db saat kondisi full-load. Ini yang membuat saya tertarik untuk membuktikan.

 

Pertama, multi-zone air-flow. Fitur ini memanajemen aliran udara hingga panas dari CPU maupun GPU tidak saling bertabrakan. Tambah lagi, posisi kartu grafis yang dibuat ‘rebah’, menjadikan tembakan udara panas benar-benar terpisah dari semprotan panas CPU.

 

Vapor chamber module on ASUS ProArt Station D940MX

 

Untuk CPU, saya ragu jika hanya melihat sepintas. Apa mungkin ukuran heatsink seperti ini plus 4 buah heatpipe dan kipas yang diarahkan ke atas, mampu menaklukan i9-9900K? Ternyata, ASUS menambahkan Vapor chamber yang menjadi fitur pendingin kedua dan sangat membantu menyerap panas hingga kipas tak perlu berputar terlalu cepat. Ini mengapa noise sistem pendingin D940MX ini bisa jauh ditekan.

 

Review ASUS ProArt Station D940MX - Disassembly

 

Ketiga, dari processor ki. Proses kimia vapor chamber tadi dibantu juga oleh dua buah kipas berukuran cukup besar, yang menghisap udara segar dari bagian belakang unit, dan membuang udara panas ke bagian atas unit.

 

Power suply eksternal

 

Opsi selanjutnya yang sering digunakan pabrikan casing mini-PC adalah, menggunakan PSU ukuran khusus. Untuk kemudahan upgrade dan replace kedepannya, rata-rata PSU ukuran khusus yang digunakan adalah seri SFX atau Flex ATX.

 

property of https://dacota.tw/

 

Sangat berbeda dengan D940MX ini, yang menjadikan dua buah adaptor 280 Watt sebagai pengganti PSU. Yang artinya, posisi catu daya berada diluar chassis. Wajar jika ukurannya yang hanya 8 liter bisa menampung komponen kelas high-end.

 

Hal kedua yang sangat disayangkan, ASUS tak membekali adaptor housing seperti yang ada pada ROG G21, untuk memudahkan pengguna menempatkan kedua adaptor D9 ini.

 

Baca juga: Review ASUS ExpertBook B9450 – Laptop bisnis 14″ Paling Ringan dan ringkas se-Dunia

 

  • Performa & Manajemen daya

 

Benchmark PC Mark 10 unit review ASUS Proart Station D940MX

 

Sejak awal menguji produk ini, berkali-kali saya dibuat menunggu sebab HDD usage yang bolak-balik 100%. Karenanya, sementara saya pakai SSD SATA via slot m.2 yang tersedia. Lumayan lah dari pada lu manyun liat, layar loading terus.

 

Saya mulai dari Cinebench R20 untuk menguji kemampuan sistem pendingin menjaga kestabilan sistem. HWInfo yang saya pakai memperlihatkan CPU mengalami throttling sejak run pertama. Suhu terdeteksi mencapai 99 derajat. Saat looping CB15 pun saya lihat clockspeed CPU sangat tidak stabil. Waduh..

 

D940MX Time Spy

 

Saya beralih ke benchmark synthetic futuremark. Saya coba running 3DMark Time Spy untuk melihat keadaan CPU saat menerima inquiry Phys-X.

 

temperature unit review ASUS Proart Station D940MX

 

Ternyata hasilnya sama. CPU clock terus menerus fluktuatif seperti bolak-balik membentur batas thermal. Saya coba berfikir positif, karena ukuran sasis kecil bukanlah tempat yang tepat untuk sebuah processor versi K. Mungkin perlu sedikit pembatasan voltage hingga clockspeed untuk mendapatkan headroom performa yang cukup agar CPU berjalan lebih stabil.

 

Tapi karena keterbatasan waktu, saya akan update hasil test dengan beberapa ‘penyesuaian’ setelah bisa bertemu kembali dengan D940MX ini. Sementara, hanya ini yang bisa saya sampaikan. ASUS menjanjikan saya menguji kembali di waktu mendatang.

 

– Manajemen daya

 

Power adaptor punya karakteristik pengolahan daya yang berbeda dibanding power suply internal. PSU internal memiliki output yang bervariasi, mulai dari 3,3V, 5V hingga 12V,- untuk memenuhi kebutuhan daya masing-masing komponen. Sedangkan power adaptor, hanya punya satu (1) output yang mana masih butuh dikonversi oleh bagian PWM.

 

Ini membuat rata-rata power adaptor menawarkan efisiensi daya yang lebih baik dibanding PSU 80+ standar. Tapi, dengan mengalihkan modul PWM ke motherboard, titik panas di bagian dalam PC bertambah. Dan jika tidak diantisipasi, yang akan terjadi adalah kondisi throttling seperti pada laptop.

 

  • Unique

 

Review ASUS ProArt Station - D940MX - Key selling point

 

 

Dengan dimensi hanya 8 liter, saya sangat mengapresiasi ASUS yang mampu menghadirkan solusi workstation bertenaga monster seperti ini. Menurut saya, standar mini PC kembali naik dengan semua yang ASUS coba buktikan lewat unit review ASUS ProArt Station D940MX ini,- walau masih banyak juga yang harus dibenahi di sana sini.

 

Tapi yang pasti, D940MX menyimpan potensi yang sangat tinggi untuk memaksimalkan kemampuan komponen dalam sasisnya yang mungil. Dengan power suply yang cukup secara kapasitas, serta didukung opsi upgrade yang baik, saya yakin D940MX ini bisa jadi nilai investasi hingga setidaknya 4 atau 5 tahun ke depan.

 

Namun hadirnya Vapor chamber yang merupakan sistem pendingin moderen, ternyata belum cukup membuat produk ini mengantisipasi panas dari komponen super buas-nya. Overall, jika tidak melakukan tindakan preventif seperti membatasi tegangan kerja, juga clockspeed CPU dan GPU, saya pribadi merasa was-was menjadikan produk ini sebagai workstation yang bekerja lebih dari 8 jam.

 

Tapi saya berfikir, mungkin beberapa produk water cooling mini bisa jadi solusi untuk ukuran sasis D940MX ini.

 

Opsi upgrade storage yang cukup terbatas, masih bisa dimaklumi dan diantisipasi dengan storage eksternal memanfaatkan ThunderBolt 3. Pun, dengan masih terbatasnya jenis storage internal, khususnya SSD NVMe atau HDD SATA 2.5″ dalam kapasitas besar, menjadikan penggunaan storage eksternal merupakan win-win solution.

 

Gimana menurut kamu?[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/6″][/vc_column][/vc_row]